Desalination adalah suatu proses yang dilakukan untuk mendapatkan air murni (H2O) dari air laut untuk supply air yang dibutuhkan untuk menghasilkan steam pada boiler.
Air murni dihasilkan dari proses penguapan pada kondisi vacuum.
Lingkup project ini adalah melakukan pergantian PLC dan local monitor device untuk melakukan monitoring dan memberikan perintah ke PLC dari field.
Kebutuhan penggantian PLC ini karena CPU dari PLC lama sudah tidak beroperasi optimal dan sudah tidak adanya support dari manufaktur karena PLC tersebut sudah obsolete, karena plan desal ini juga sudah cukup tua (lebih dari 10 tahun).
Karena yang rusak hanya modul CPU, maka pada proyek ini keberadaan seluruh device PLC lainnya seperti Input dan Outputnya tetap dipertahankan.
Selain penambahan CPU, pada proyek ini juga menambahkan sebuah baseplate sebagai tempat bagi PLC yang baru lengkap dengan power supply dan sebuah RIO Head untuk modul komunikasi dengan baseplate yang lama. Penambahan RIO (Remote Input/Output) juga memungkinkan configurasi ini diexpand dimasa yang akan datang untuk menjadi system Hot Standby.
HotStandby PLC adalah system control PLC yang dapat mengantisipasi terjadinya failure pada system PLC utama, dimana fungsinya akan digantikan oleh CPU PLC secondary.
Pada gambar 1 dapat dilihat konfigurasi system PLC yang baru.
Gambar 1. Konfigurasi PLC Desalination yang baru.
Dengan konfigurasi system yang baru ini selain dapat mempertahankan keberadaan seluruh modul I/O juga komunikasi antara PLC dengan DCS tetap dapat dipertahankan, karena CPU yang disupply mendukung digunakannya protocol modbus yang merupakan protocol komunikasi yang digunakan oleh DCS yang ada.
CPU penggantinya yaitu Quantum 534 merupakan salah satu produk high-end PLC dengan kemampuan fungsi dan kecepatan eksekusi program yang tinggi. Dengan kemampuan yang ada ini, seharusnya fungsi CPU ini telah dapat menggantikan keberadaan hardware PID controller yang digunakan pada desalination plant.
Untuk display monitor digunakan magelis. Display magelis yang digunakan memiliki tampilan full colour dan memiliki tipe touchscreen. Untuk komunikasi dari PLC ke display monitor ini digunakan protocol modbus sebagai media komunikasinya.
Pada proyek ini dilakukan installasi, commissioning dan startup desalination plant.
Pada tahap commissioning kita melakukan pengetesan masing-masing instrument yang digunakan sebagai sensor yang memberikan masukan ke PLC, termasuk juga instrument-instrumen yang digerakkan oleh PLC seperti motor dan actuator.
Pengetesan instrument dilakukan dengan cara memberikan perintah pada tiap-tiap keluaran PLC dan melihat respons dari instrument yang diuji. Untuk instrument-instrument sensor, pengujian dilakukan dengan cara mempengaruhi pembacaan sensor dan melihat perubahan yang dapat dibaca dari PLC.
Selalu dalam sebuah pekerjaan komissioning PLC, hal terpenting adalah analisis hazard/bahaya dalam system control yang mungkin terjadi, sehingga timbulnya hazard dapat dihindari. Dalam desalination plant, peluang hazard pada system kontrol terletak pada terkirimnya condensate yang memiliki kualitas rendah ke production line. Untuk mencegahnya sensor conductivity harus akurat dan fungsi valve menuju production line harus berfungsi dengan benar.
Dalam kondisi lingkungan yang sangat korosif karena pengaruh udara laut sehingga banyak instrument yang mengalami korosi. Dalam hal ini cathodic protection yang digunakan tidak dapat mencapai seluruh bagian yang perlu dilindungi, sehingga perlu dilakukan perbaikan terhadap beberapa instrument yang rusak karena cukup lama tidak dioperasikan.
Setelah seluruh peralatan di-uji dan dapat bekerja seluruhnya, proses commissioning selanjutnya memasuki tahap startup plant desal ini.
Dengan bantuan operator yang berpengalaman, proses startup dapat dilalui dengan mulus. Pada percobaan startup pertama telah dihasilkan H2O yang cukup baik, yaitu air yang memiliki conductivity yang cukup rencah, yaitu mencapai dibawah 10 microS/gr
Pada saat proses startup, keberadaan operator yang berpengalaman dan sangat mengetahui desalination plant sangat diperlukan dan sangat membantu dalam proses startup, karena banyaknya peralatan yang dapat menghasilkan anomaly dalam operasinya.
Thursday, July 19, 2007
Fire Water Pump
Fire Water Pump adalah mekanisme pemadaman kebakaran otomatis. Control system Fire Water Pump diatur dalam standard desain NFPA 20. Standard ini mengatur mekanisme otomatisasi Fire Water Pump dan Instrument control yang dipersyaratkan.
Sistem Control yang digunakan pada project ini menggunakan PLC Allan Bradley dari keluarga SLC 5/01 dan SLC Input/Output Series.
Fungsi dasar dari system control ini adalah agar Sistem Kontrol dapat bekerja secara otomatis untuk mengaktifkan motor secara electrical yang mengambil catu daya yang berasal dari battery, maupun secara pnenumatic yang memanfaatkan air instrument sebagai penggerak awal motor melakukan starting-up.
Ada 3 mode melakukan starting-up motor, yaitu :
1. Emergency Auto Start
2. Weekly Auto Start
3. Manual Start
Emergency Auto Start adalah mekanisme untuk menjalankan pompa dalam kondisi emergency ketika menerima sinyal dari Fire & Gas Systems.
Hardware PLC
Sebagaimana yang disyaratkan pada document kontrak dan dokumen NFPA yang mensyaratkan bahwa system Fire Water Pump harus mendapatkan supply dari battery, maka syarat mutlak yang dituntut adalah voltage drop yang terjadi tidak mengganggu system control PLC. Untuk itu pada desain Fire Water Pump ini dibedakan antara battery yang disupplay untuk pompa dan battery yang digunakan sebagai catu daya PLC.
Battery Lifetime
Battery digunakan untuk backup power baik untuk pompa maupun untuk PLC. PLC membutuhkan daya minimal agar dapat melakukan fungsi control secara normal.
Total arus yang disediakan untuk PLC adalah 7A. Arus ini berdasarkan kebutuhan arus maximum seluruh control PLC. Sementara PLC SLC 5/01 dapat memberikan toleransi voltage drop sampai 18 Volt atau 0,75% dari tegangan yang direkomendasikan. Hal ini berarti system control dapat memberikan toleransi penurunan daya yang disupplay dari battery sampai dengan 60% dari kapasitas awal.
Berdasarkan spesifikasi battery, didapatkan bahwa Self discharge dari battery setelah 8 bulan adalah 60%, sehingga battery lifetime minimal untuk system control ini adalah 8 bulan.
Sistem Control yang digunakan pada project ini menggunakan PLC Allan Bradley dari keluarga SLC 5/01 dan SLC Input/Output Series.
Fungsi dasar dari system control ini adalah agar Sistem Kontrol dapat bekerja secara otomatis untuk mengaktifkan motor secara electrical yang mengambil catu daya yang berasal dari battery, maupun secara pnenumatic yang memanfaatkan air instrument sebagai penggerak awal motor melakukan starting-up.
Ada 3 mode melakukan starting-up motor, yaitu :
1. Emergency Auto Start
2. Weekly Auto Start
3. Manual Start
Emergency Auto Start adalah mekanisme untuk menjalankan pompa dalam kondisi emergency ketika menerima sinyal dari Fire & Gas Systems.
Hardware PLC
Sebagaimana yang disyaratkan pada document kontrak dan dokumen NFPA yang mensyaratkan bahwa system Fire Water Pump harus mendapatkan supply dari battery, maka syarat mutlak yang dituntut adalah voltage drop yang terjadi tidak mengganggu system control PLC. Untuk itu pada desain Fire Water Pump ini dibedakan antara battery yang disupplay untuk pompa dan battery yang digunakan sebagai catu daya PLC.
Battery Lifetime
Battery digunakan untuk backup power baik untuk pompa maupun untuk PLC. PLC membutuhkan daya minimal agar dapat melakukan fungsi control secara normal.
Total arus yang disediakan untuk PLC adalah 7A. Arus ini berdasarkan kebutuhan arus maximum seluruh control PLC. Sementara PLC SLC 5/01 dapat memberikan toleransi voltage drop sampai 18 Volt atau 0,75% dari tegangan yang direkomendasikan. Hal ini berarti system control dapat memberikan toleransi penurunan daya yang disupplay dari battery sampai dengan 60% dari kapasitas awal.
Berdasarkan spesifikasi battery, didapatkan bahwa Self discharge dari battery setelah 8 bulan adalah 60%, sehingga battery lifetime minimal untuk system control ini adalah 8 bulan.
Tuesday, June 19, 2007
Enclosed Flare
Enclosed Flare designed to burn H2S waste gas.
H2S characteristic is can be break up only at very high temperature. So normal Flare tipe can not separate H2S.
Normal Flare burn waste gas at flare tip at the end of flare structure, while Enclosed Flare burn waste gas inside the structure.
Our Enclosed Flare control System design to maintain the raising temperature and maintain at appropriate temperature.
Our Control System mainly controlled using Siemens S7-200 PLC inside pressurized panel at Flare Skid.
Beside our PLC, we use Honeywell Temperature Indicating Controller. For Shut-Off Valve we use Maxon Valve, the leading Shut-Off Valve for Gas.
H2S characteristic is can be break up only at very high temperature. So normal Flare tipe can not separate H2S.
Normal Flare burn waste gas at flare tip at the end of flare structure, while Enclosed Flare burn waste gas inside the structure.
Our Enclosed Flare control System design to maintain the raising temperature and maintain at appropriate temperature.
Our Control System mainly controlled using Siemens S7-200 PLC inside pressurized panel at Flare Skid.
Beside our PLC, we use Honeywell Temperature Indicating Controller. For Shut-Off Valve we use Maxon Valve, the leading Shut-Off Valve for Gas.
Subscribe to:
Posts (Atom)